Senin, 19 Agustus 2013

ORO-ORO OMBO, CEMORO KANDANG

bernaung diteduhmu, menanggalkan beban dipundak... meluruskan kaki-kaki lunglai
ramah sapa angin yang berbaur dengan ranting cemara, menjadi senandung ditelinga para pengembara

mata ini semakin ingin terpejam,..
tatkala semerbak lavender Oro-oro Ombo membelai dengan mesranya
bersandar pada batang yang menjulang, beralas permadani cemoro kandang..

kau tak istimewa, namun wujudmu begitu mempesona...
menjadi persinggahan setiap insan pemburu negeri atas awan
ketika angin mulai bertiup kencang, senandung seoalah badai yang siap menerjang
damaimu adalah angin dan hadirmu adalah pertanyaan...
Cemoro kandang, kau adalah persinggahan yang tak pernah kami lupakan

RANUKUMBOLO
kabut menggelapkan alam ini sebelum gelap itu datang
kaki-kaki yang telah letih bersembunyi dibalik permadani usang
dingin kian tak terbendung, mata semakin jauh terpejam...terbaring lelap dalam buaian

dingin membangunknku lagi...
embun belum beranjak dari daun yang tak pernah layu
"jam berapa ini?...
semesta bersenandung...burung,ranting, bahkan rumput yg kupijak...
kabut menari diatasmu yg masih terlelap
sedangkan mata-mata sayu menatap keindahanmu dari balik tenda

biasmu berkilau layaknya permata...
aroma dan warnamu tak bisa kumengerti
aku tidak sedang jatuh cinta, bahkan bidadari rasanya tak dapat memalingkan wajah ini darimu..

aku tak tau bagaimana aku bercerita kepada mereka sedang aku tak mampu berucap satupun tentangmu
bahkan hiperbolaku belum bisa menceritakanmu

Ranukumbolo,..apa yang bisa kukatakan tentangmu?

dan entah apa tujuan kau tercipta, tapi kau tak ada duanya...