![]() |
| ...PNS |
"busyet... ngapain si ni bocah siang bolong gini manggil2, dengan malas aku beranjak meraih gagang pintu.
"kenapa van?
..ini mas, disuruh ibu nganter sanggar cempedak....(sanggar cempedak; sejenis pisang goreng tp trbuat dr buah cempedak, orang kalimntan menyebut pisang goreng dgn sebutan sanggar)
owh iya,,,makasih yak... tumben dirumah lu? biasanya siang gini kelayapan dilapangan bola..
...ngga mas, lapangan lg dipake org latihan paskibra..
owh... kasih tau ibu,, mkasih gitu ya...iy mas,,,jawabnya..dan berlalu pergi
kuletakkan sepiring dengan beberapa potong camilan itu didepan televisi, kulanjutkan tidur siangku yang belum tuntas.
ivan...dia putra bungsu pemilik rumah yang aku tinggali, sudh 2 tahun ini aku dan dua orang temanku menyewa dirumh ini.
owh iya, aku indra... umurku 24 tahun, aku tinggal dikota ini semenjak STM, tamat STM aku melanjutkan kuliah sambil bekerja. Tak terasa, 8 tahun berlalu, kuliahku pun telah selesai satu tahun yg lalu.
...hari-hari kuisi dengn bekerja, keluar masuk hutan dan sesekali mendaki gunung, dan satu lagu, bervespa. semua aku jalani dengan damai... seolah tanpa beban.
disela makan siang telfon gengamku berdering, "my sister...
"assalamu'alaikum...,, ya mba'?
..lagi kerja to? pertanyaan yang bgitu khas dan nyaris sm stiap dy menelfon...
..lagi makan siang, ada apa,..mamak-bapak gmn kabar'a, sehat?
dan bla-bla-bla...obrolan kami tak bgitu lama, stelah menyampaikn mksdnya dy menutup telfon.
dia kakak perempuanku kami, kami 3 bersaudara, aku anak nomer 2..sedangkan adikku lebih dulu menuju alam kedamaian. kakak ku telah berkeluarga, dia mnjadi guru dikampung halamanku.
dalam pmbicaraan ditelfon dia memberitahukan tentang penerimaan Pegawai Negri Sipil. sesuatu yg telah dicita-citakan org tua kami.
ini kali kedua kakaku menyuruhku ikut serta dalam tes tersebut, aku tau sebenarnya ini adalah permintaan orang tuaku. Hanya saja mereka tak mau menyampaikannya secara langsung kepadaku, karena pada sebelumnya aku tak menuruti maksud mereka.
"wan,,, beny kmn, ngga keliatan dari tadi?
wawan & beny... kami berteman sejak STM, kami sama-sama tinggal dirumah ini. Diantara kami bertiga hanya beny yang belum menyelesaikn kuliahnya, entah karena sibuk pekerjaan, sibuk bermusik, fotografi atau bervespa...tahun ini dia baru akan sidang.
...meneketehe..(jwban yg bgitu ringan...) dibengkel kali.
...rencana kita jadi ngga? matabak?...
obrolan kami begitu pnjang...hingga senja mnyambut kami dengan dengan bias pada langit dan seolah menulis apa yang sedang kami bicarakan.
begitu hari-hari kami jalani, menghabiskan waktu dengan rasa lelah dan keceriaan. Dunia kerja, alam raya, dan banyak hal yang kami jalani, hingg kami terasa enggan meninggalkan semua ini.
kerumunan orang terlihat didepan papan pengumuman sebuah instansi pemerintahan, berdesakan, berebut tempat dan pandangan. Ratusan wajah yangg lesu terhambur ditepi gedung yang seolah mengerti apa yg mereka rasakan.
"belum rejeki mau diapain bro... seorang pemuda bersuara bak pahlawan dan motivator mencoba menenangkan temannya.
..lihatlah negri ini, hamparan pulau yang membentang, lautan, gunung, & hutan, tak terhitung kekayaan alam dan sumber penghidupan yang terkandung disana. Tapi mengapa pemandangan ini nyaris terjadi setiap tahunnya?
..mana cerita dan kabar yang digembar-gemborkan dimedia tentang pencapaian sumber daya alam kita, tentang Barel perhari, tentang Ton yang diekspor....sementara hutan kian menepi, gunung kian rata dan laut kian mengering.
Tentang negri yg sudah 65 tahun merdeka, sedang generasinya masih tertunduk dengan wajah lesu merona.
Aku masih mematung diatas scooterku, sambil sesekali membaca berita dimedia online untuk mengusir kebosanan.
Setelah kerumunan mulai berkurang, perlahan kutinggalkan scooter mendekat kepapan pengumuman...mataku bergerilya ketiap sudut hurup, kata & angka yg terpampang didepanku.
Tiga menit berlalu, tak kutemukan angka atau namaku... tak ada kekecewaan atau Penyesalan. senyumku bergelayut mengiringi langkahku meninggalkan sekumpulan nama dan angka yang entah siapa tuannya.
Pagi ini mataku dipaksa terbuka oleh dering yang tak asing...telfon gengamku, "my mom,
"Assalamu'alaikum mak,,,?
...wa'alaikumsalam, masih kah tidur nak? wes subuh belum? nada yg begitu lembut seoalh membelaiku pagi ini, seperti saat kecil dulu, dikala ia membangunkanku utk berangkat kesekolah.
"iy mak, tidur lagi abis subuh...
...gimana hasilnya?
Aku tau apa yang dimaksud, aku tak menjawab, seolah tak mendengar apa-apa. Entah mengapa tiba-tiba aku ragu mengatakan ini kepada orang yang telah melahirkanku. Bukan karena malu atau takut, tapi... aku tau, berita darikulah sangat dinanti olehnya. Sedang aku belum memiliki itu.
... nak? suaranya membuyarkan pikiranku.
"eh..iya mak...belum mak,... jawabku ragu.
setelah diam beberapa saat,.. "owh, ya ngga papa, berarti belum rejeki nak... sabar aja.
Aku tau sebenarnya beliau sedang tak dalam keadaan yg sangat tidak ia harapkan.
Bagaimana tidak, PNS adalah salah satu tujuan kedua orang tua kami, mereka berjuang keras agar kami bisa belajar hingga keperguruan tinggi.
Dan itu berbanding terbalik dengan jalan fikiranku, disitulah mamak dan bapak sering tak dapat bicara banyak tentang jalan pemikiranku. "jadilah manusia, lihatlah kami, kami hanya tak ingin dirimu seperti kami" perkataan bapak yang selalu kuingat.
Rasa berdosa jelas menjadi selimutku pagi ini, aku belum bisa mewujudkan keinginan para pengukir jiwa ragaku.
..ya udah ya nak, mamak tak nyiapin sarapan buat bapak dulu, sana bangun...trus mandi. diujung telfon beliau mengucap salam,,,Asslamu'alaikum...
wa'alaikum salam...
Begitu hari-hari kujalani penuh dengan aktivitas yang membuatku merasa menikmati hidup, meski terkadang disisi lain perasaan kian berkecamuk tatkala isi kepalaku dan angan ini membisikan kata-kata ketelinga "kau telah mengecewakan orang tuamu, kau belu bisa membuat mereka bahagia, anak macam apa kau ini?"
Setahun Berlalu...
Ini hari libur, matahari tengah malu-malu dengan senyumnya diufuk timur. Didepan rumah wawan tengah sibuk memanaskan mesin scooter dengan suara yang cukup khas...
"jo...,,,sekalian bawakan oli didekat rak sepatu...teriak wawan dari luar...
aku menyusul keluar dengan membawa keranjang belanjaan, ya.. pagi ini kami akan kepasar untuk membeli daging, sayur mayur dan bahan-bahan lain untuk membuat martabak.
Sekitar 8 bulan terakhir aku dan wawan membuka kedai martabak, bermodal dari sedikit tabungan yang kami miliki. Rafik (kami biasa memanggil paijo) dan iman , teman lama kami asal tegal yang menjalankannya, kami hanya membantu saat hari libur.
Meski omzet kami tak terlalu besar, tapi kami bersyukur...paling tidak kami memiliki penghasilan tambahan.
Tengah hari kami selesai menyiapkan semua, sayuran, adonan, kare daging, telah tersusun rapi ditempatnya dan ba'da ashar siap diberangkatkan. ini lebih cepat dari biasanya...karena jika hari-hari biasa hanya iman dan rafik yang mengerjakan semua.
Telefon genggamku berdering, tanda pesan masuk..."my sister"
...de',,jam 3 mama sampe diterminal, setelah dari acara nanti tak ajak mampir ketempatmu y...
aku baru ingat, hari ini kedua orang tuaku datang... mereka menghadiri acara pernikahan keluarga dari kakak iparku. Dan ini akan menjadi kejuta untuk mereka, selama ini aku tak pernah menceritakan kegiatanku diluar pekerjaan.
Aku hanya ingin meyakinkan mereka bahwa aku tak pernah mengecewakan mereka, orang tuaku.
setelah mandi dan selesai berkemas, mengantarkan rafik dan adit, menarik gerobak dagangan kepangkalan.
aku tengah sibuk melayani pembeli... membungkus pesanan, hingga aku tak menghiraukan sekitarku... "martabak manisnya masih ada mas? suara yang datang dari arah kananku seperti tak asing ditelinga, meski begitu aku tak lantas tak menghiraukannya....masih bu, silahkan dipilih mau isi apa, daftarnya ada disini...sambil menyodorkan daftar menu aku mengalihkan wajahku kearahnya dengan sedikit senyum sebagai tandai aku menghargai pembeli,...tapi apa yang kulihat...seraut wajah yang mulai mengeriput, menatapku dengan tatapan yang begitu dalam penuh makna...matanya sedikit berkaca dan senyum yang entah apa artinya...
...mamak?,,, kataku... ya..dia adalah ibuku, salah satu pengukir jiwa ragaku.
...kuraih tangannya, kuletakkan keningku, seperti ketika aku hendak berpamitan sekolah saat kecil dulu...aku mengajaknya ketempat duduk yang ternyata ayahku telah terlebih dulu duduk disana bersama kakak ipar dan keponakanku.
Beberapa pasang mata pembeli yang memperhatikn tak kuhiraukan bahkan ingin kutunjukkan kepada mereka bahwa ini lah kedua manusia super yang membuatku hingga seperti sekarang ini.
"sehat le? pertanyaannya dengan suara yang seolah ragu
Alhamdulillah mak,...
aku tak tau harus memulai pembicaraanku dari mana, yang sangat ingin kuucapkan adalah permintaan maafku karena aku tak bisa mewujudkan impian mereka yang menginginkan aku menjadi pegawai berseragam, pelayan masyarakat.
aku tau, mereka masih kecewa dengan jawabanku dulu, saat itu aku mengatakan kepada mereka "bukan hanya pegawai negeri yang bisa makan".
Aku sadar meski hidupku adalah pilihanku dan aku yang menjalani, tapi kepada mereka yang telah melahirkan, merawat dan membesarkan aku tak seharusnya aku berkata demikian, tak ada orang tua yang ingin melihat anaknya sengsara atau sekedar hidup lebih sulit dari dirinya, tak ingin anak mereka diremehkan dan dipandang sebelah mata oleh orang lain.
Disisi lain ibuku seperti masih terpukul ketika tau tentang kisah asmaraku, kala itu orang tua kekasihku menolakku secara halus, kemudian menjodohkan putri mereka dengan seorang pegawai sebuah instansi pemerintahan.
...mohon maaf, kalau saya tidak bisa mewujudkan impian mamak dan bapak, saya tau semua menginginkan yang terbaik untuk saya, tapi mungkin saya memiliki cara sendiri untuk menjalani hidup ini, dimana saya merasa lebih nyaman, saya hanya meminta semua mendo'akan yang terbaik untuk saya.
...dulu bapak sering bilang agar saya bisa bermanfaat untuk orang lain, dan inilah mungkin jawaban dari nasehat bapak dulu, bapak lihat mereka... aku sambil menunjuk kearah rafik dan iman yang tengah sibuk meladeni pembeli.
..meski hanya mereka, tapi paling tidak saya telah membantu mereka mendapat pekerjaan.
Begitu bahasaku seperti sedang berbicara kepada orang lain yang tak kukenal... ayahku hanya terdiam, sedang ibuku tampak menganngguk sambil tersenyum, air matanya tak bisa disembunyikan.
Begitu banyak kata dan maksud saat itu, yang selama ini belum sempat kuutarakan, untuk meyakinkan mereka bahwa aku tak pernah berniat mengecewakan mereka. Aku tak pernah memaksa orang lain atau bahkan kedua orang tuaku untuk mengerti dan mengikuti kemauanku, aku hanya ingin mereka tau maksudku.
Dan inilah aku, seorang anak laki-laki yang sedikit keras kepala, terlahir dari keluarga petani biasa, aku yang tak bisa mewujudkan mimpi kedua orang tua karena memiliki pemikiran berbeda.
Aku memang bukan seorang pegawai pelayan masyarakat, yang berseragam rapi dan bersepatu mengkilap, dengan potongan rambut rapi dan tutur kata berwibawa saat berbicara. Tapi mungkin aku juga bisa berguna untuk orang lain, atau paling tidak aku bisa mengurangi angka pengangguran negeri ini, selain aku seorang pekerja kini aku juga menciptkan lapangan pekerjaan.
Dan disini sekarang aku juga menjadi seorang PNS, bukan Pegawai Negri Sipil, tapi.... Pengusaha Naik Scooter.

