Sabtu, 28 Februari 2015

Negeri Katanya

di Negeri ini yang katanya sudah merdeka
rakyat masih berjuang dengan semangat 45...
untuk mendapat kehidupan layak dan hak-haknya

di Negeri ini yang katanya sudah merdeka
perbudakan tumbuh subur dan dipelihara
alih-alih mengayakan negara,
lewat badan usaha, negara malah memperbudak anak bangsa dengan perbudakan modernnya

di Negeri ini yang katanya sudah merdeka
jelas-jelas menolak dan memberangus habis komunis yang katanya anti tuhan
tapi juga memelihara dan memupuk kapitalis yang jelas-jelas penuh kebiadaban...

mengeruk kekayaan negara & memperbudak kaum bawah dengan penindasan

di Negeri ini yang katanya sudah merdeka
petani berjuang dengan sabit dan cangkul, melawan aparat bersenjata dengan yang tak segan memukul
mempertahankan tanah mata pencaharian yang akan direbut dan dijadikan apartememen para bajingan...

di Negri ini yang katanya sudah merdeka
para ahli agama tak lagi layaknya beragama
saling mencaci demi pasangan yang didukungnya

di Negeri ini yang katanya sudah merdeka
para sejarawan berteriak hingga tanpa suara
meneriakkan bukti sejarah para pejuang...
yang sengaja dikaburkan hinga pemudanya benar-benar melupakan

dan di Negri ini yang katanya sudah merdeka
orang bisa mati karna bersuara... dan kami masih terus mencari pembuktian atas kata-kata Merdeka

kau, Keinginan

Terkadang aku ingin seperti matahari,
Dimana dia tak pernah bersuara, tapi kita tau &merasa jika dia ada..
Menyinari tanpa meminta arti,memanaskn tnpa membakr..
Terkadang aku ingin seperti rembulan,
Mebias sinar meski tak bersinar..menciptakan kemilau pada danau yg sebenarnya tak berkilau
..keadaanku adalah sebuah peristiwa dimana aku harus terus membaca lalu menulis kemudian menyimpannya
..begitulah cara membunuh keinginan itu
Seperti ketika kuajak kau berlari, tertawa & menari..
Kita seperti sama-sama bahagia & tak apa-apa
Dedaunan mengiringi gerakn.kita, sebagian lagi menyaksikn dengan seksama..layaknya kamera yang adegan drama
Tentu saja aku penulis, dan kau adalah keinginan itu..

Minggu, 09 Maret 2014

Mencuri Kedamaian Di Doyam Seriam (Sebuah Warisan, Ditepi Puing-puing Kehancuran)

Sabtu, 22 feb 2014 06.30 pagi
Rasanya baru saja terpejam, 2 jam bukan waktu yang cukup utk tidur. Pa' Anto membangunkanku.
Dingin air shower membuat mata ini berubah 180 derajat, dengan rasa pening dikepala aku mulai berkemas. Handphone Berdering...
"moci-moci, ane udah dibawah om...
.."oke,,,
Pening dikepala akibat kurang tidur belum hilang, juga mata yang mulai terasa pedih, Aku menuruni tangga, menenteng perlengkpn yg belum 100% selesai ku packing.
Om L tengah berbincang dengan security & beberapa orang. Jam 08.00 Packing selesai kami berangkat menggunakan Sepeda motor. Kami memilih menggunakan
penyebrangan Kapal Motor traditional,
(masyarakat disini biasa menyebut Kelotok), karena selain ingin menikmati udara laut pagi hari, ini juga menghemat waktu kami (perjalanan hanya sekitar 20 menit).
Penyebrangan masih belum terlalu ramai, setelah membeli karcis tanpa
mengantri kami langsung naik keatas kapal. Peralahan mulai beranjak dari kota Balikpapan menuju kabupaten Penajam Paser Utara.

Dalam perjalanan kami sempat beberapa kali singgah, untuk mengisi BBM kendaraan dan tentunya mengisi perut kami. heheee...
(owh ada yang lupa, Penjaga Karcis diPelabuhan kapal Klotok pagi ini lumayan manis gan, jilbab cream cerah & senyumnya pagi ini bs meringankan rasa pedih dimata,
sayang... "layar baru saja kami kembangkan, tapi angin terlalu cepat berhembus" Klotok berangkt... hahahh...)

12.15 kutepuk pundak om L untuk menurunkan laju sepeda motor, jariku menunjuk sebuah plang dipertigaan kanan jalan "OBJEK WISATA DOYAM SERIAM... 12 KM"
disebrangnya terlihat Beny, Febri, Chandra dan irul tengah santai disebuah warung kecil beratap dauh nipah...menikmati kue olahan penduduk setempat. Mereka yang
tinggal di kota kabupaten daerah ini (Tanah Grogot Kab. Tana Paser) telah lebih dulu sampai, karena jaraknya memang lebih dekat hanya skitar 1 jam.
"Halo brother......, teriaknya menyambut kedatangan kami.
Kami tak berlama-lama disana, karena kami ingin segera sampai ditujuan. Setelah berbincang sebentar sambil membeli kebutuhan tambahan, kami segera bergegas.
Sekitar 7KM melewati jalanan berbatu perkebunan sawit, kami bertemu sungai yang tepat memotong badan jalan (airnya bersih dan tidak terlalu dalam namun batu yang terdapat
didasar sungai membuat pengendara motor harus extra hati-hati). Tak jauh dari sungai terdapat rumah petani sawit asala Malang (pada dinding depan terdapat logo dan
tulisan AREMA, Pemilik rumah begitu ramah) Chandra  menyarankan agar kami menitipkan motor disini, alasannya karena medan yang cukup sulit untuk sepeda motor terutama Matic
(kami mengikuti sarannya  karena diantara kami, hanya dia yang sebelumnya pernah ketempat yang akan kami tuju, walaupun entah berapa tahun yang lalu).
Aku menyambut dengan senang hati, karena kebetulan aku sangat menyukai trekking. Setelah menitipkan kepada pemilik rumah kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Saat  berpamitan bapak pemilik rumah terlihat kaget ketika kami mengatakan bahwa kami akan berjalan kaki, sambil menggelengkan kepala seolah tak percaya beliau berkata "gila...

Tanjakan - tanjakan demi tanjakan kami lalui seperti tanpa beban, carrier 40+5 liter yang menempel dipunggungku juga belum terlalu berpengaruh dipundak dan badanku yang terbilang kurus. Tapi satu hal yang begitu membuat  dada kami sesak, sambil sesekali menggerutu. Bukan karna kurangnya air minum atau batu - batu jalanan yang tak beraturan, tapi karna hampir 1,5 jam kami berjalan, kami masih saja menemui bukit dan lembah yang ditelah berganti kelapa sawit, di lereng -lereng tampak batang - batang rebah dijadikan sandaran bibit kelapa sawit siap tanam.

Vandalisme
Diujung tanjakan kami bersitirahat, meneguk air untuk sekedar membasahain tenggorokan, menyaksikan puing - puing dan vandalisme yang dilakukan oleh bangsa kami sendiri. Aku teringat perkataan seorang teman seni lukis, bang Paul, dari  Balikpapan Art Foundation. "mereka tak pernah berfikir, jika saja pohon mengenakan tarif pada setiap oksigen yang mereka hirup, mereka seharusnya tau, jika hutan bisa menghasilkan uang bukan untuk dijadikan uang"

Terik belum terlalu mereda, lambat langkah kami menapaki jalanan batu yang sebagian besar tertutup rerumputan, berjalan seperti mengendap... mencari teduh dibawah rindangnya pepohonan.
Entah berapa lama kami menapaki tanjakan, namun belum juga terlihat puncak, tak seperti tanjakan-tanjakan sebelumnya. Febri terlihat begitu lelah, keringat berpadu dengan sengatan matahari membuat kulitnya makin memerah, selain beban, ransel militer yang digunakaan sepertinya kurang mendukung. kami beristirahat, melepas dahaga sambil menikmati kue olahan penduduk setempat yang tadi kami beli. Beny menyulut sebatang rokok kretek, sebagian dari kami merebahkan diri direrumputan untuk sekedar meluruskan pinggang. Setelah diawal perjalanan kami disuguhi hamparan bukit gundul dan kelapa sawit, kali ini Sang Maha Tinggi memberikan sesuatu yang lain, bagi kami itu adalah bonus, mataku menangkap sesuatu yang langka, sepasang burung enggang baru saja hinggap dipepohonan, jaraknya lumayan jauh, namun masih terlihat. bagiku ini bukan kali pertama aku melihat enggang secara langsung, karena aku terlahir dipulau ini, dan sebagian masa
kecilku kuhabiskan dipedesaan yang dikelilingi hutan, sehingga dengan mudah aku keluar masuk hutan. Tapi beny, om L dan Febry.... mereka hanya melihat pada gambar atau paruh enggang yang telah diawetkan.
"Alhamdulillah... rejeki brooo....,,, kata beny.
memanfaatkan smart kamera yang dibawanya, meski kurang maksimal...berusaha mengamati tiap gerak-gerik sang enggan. (selain kamera ponsel ka pumi membawa 5 kamera, 3 DSLR, 1 finepix dan 1 lagi smart kamera. Sayangnya tidak ada yang membawa lensa tele maupun lensa fix, maklum kami pemula..**belum kebeli gan, hhee)
Jam tanganku menunjukkan pukul 15. 45, entah berapa kali kami beristirahat, namun tanjakan puncak terlihat. Setiap tikungan yang kami anggap puncak tenyata bukan.

Jika dalam pendakian gunung mungkin kita bisa menyaksikan lembah-hijau, pohon cemara, serta udara dingin berkabut, tapi tidak dengan ini, semakin jauh anda berusaha memandang kebawah anda akan melihat hamparan kelapa sawit. Jujur, saya sendiri mulai merasa jenuh dan sempat berfikir benarkan ini jalurnya, bukan karena carrier yang terasa semakin berat, tapi karena Chandra juga terlihat tak begitu yakin dengan yang diingatnya. Saya mencoba menghubungi seseorang yang pernah bercerita tentang tempat tujuan kami, tapi tak berhasil. Trek yang menanjak dan beban dipungung membuat tubuh harus sedikit condong kedepan, pandangan banyak tertuju ketanah. "Sampah...?! seorang perancis (jika tidak salah) pernah mengatakan : "Jika kau tersesat digunung indonesia, maka ikutilah sampah". hal itu pula yg kukatakan mereka.
Tanjakan Siluman

(Karena terjalnya dan sering menipu kami, kami menyebutnya dengan tanjakan Siluman, sebelum tanjak siluman kami juga bertemu dengan anak-anak penduduk sekitar, ada 8 orang, mereka sedang mencari durian. kami coba menanyakan letak dan jarak tempuh tujuan kami, tapi mereka tidak mengetahuinya)
(Bersama Bolang dari modang dalam)

 
Aku dan beny melambat,sedang Om L dan yang lain sudah tak terlihat,
"Finiiissssshhh....!!! teriak febri, kami mempercepat langkah kami. Tak jauh dari puncak kami bertemu tempat peristirahatan (mungkin jika digunung ini bisa dianggap Pos, namun bentuknya lebih mirip halte) disinilah Gate Way Modam Seriam, trek curam dan berkelok. Selain itu juga berlumut, menandakan daerah ini sangat jarang dikunjungi, hal ini dikarenakan jarak dan akses yang kurang bersahabat mungkin juga ketertarikan, tanggung jawab dan rasa berterimakasih orang-orang terhadap alam benar-benar telah terkikis.

(jalanannya sudah dicor semen dan di beri pegangan menyerupai pagar dibagian tengahnya)"kami berharap jalanan tetap seperti itu, ini agar keadaan tempat ini tetap terjaga. semakin mudah akses masuk ketempat ini, semakin cepat pula kearifan alamnya musnah, tumpukan daun kering akan berubah menjadi tumpukan botol-botol plastik dan sampah lain, dan selamat tinggal"

(owh iya, sebelum sampai dipos pertama, tepatnya puncak tanjakan  siluman, padang tandus yang tak luas dengan sedikit rerumputan berdampingan dengan pepohonan. Tempat ini menurutku mirip dengan jambangan-jalur Semeru/Mahameru)
(Puncak Tanjakan Siluman)

Semakin kebawah trek semakin menarik. Jalanan cor semen telah berubah menjadi anak tangga yang curam, berlumut dan rapuh.



Anak Tangga
 Kekuatan paha, lutut, serta kualitas alas kaki kami diuji. Namun kami seperti lupa dengan itu, hijau dan lebatnya hutan, dimana udara nyaris suci, di kejauhan suara khas burung enggang mengiramakan damai. Sambil mengabadikan jajaran bukit terjal nan hijau aku bergumam "Jawa Punya Gunung, Tapi Kalimantan Punya Hutan"


Gemuruh yang air kami kira hujan, ternyata berasal suara air terjun modam seriam, Tempat yang kami tuju, kami semakin dekat. 17.10 (kira-kira) Air yang jatuh ketelaga menjadi irama, batu-batu dipinggirnya menjadi alasnya, pepohonan yang menjulang
dedaunan  pada  ranting-ranting menjadi penarinya, mereka menyambut kedatangan kami sore itu. 

(kami tak banyak mengekspresikan suasana hati kami,kami mengekpresikan itu dengan cara kami sendiri, bagi sebagian orang bisa saja ini bukan apa-apa, tapi bagi kami ini sungguh luar biasa, ditengah gencar dan semakin banyaknya vandalisme yang beralasan pengembangan ekonomi, masih ada hutan dengan ekosistem nyaris sempurna, Burung, mamalia dan jenis primata lainnya)
Air Terjun Gregis

Setelah meletakkan bawaan dan mendirikan tenda, aku membasuh tangan dan wajah, membasahi tenggorokan, tak lupa kami mengucap "permisi" kepada alam, kami sampai. Belum genap 20 menit kami duduk didepan tenda, alam kembali menyambut kedatangan kami dengan hujannya, meski tak begitu lama namun itu memaksa kami untuk masuk kedalam tenda.
Senja itu, sambil menunggu nasi matang kami memotret disekitaran, hingga suasanan benar-benar gelap. Mie instan dan ikan kaleng menemani nasi dimakan malam kami bersama alam, setelahnya
beberapa cangkir kopi dan api unggun mengiringi obrolan kami malam itu. Om L lebih dulu masuk ketenda, tak berselang lama, Chandra, Febri diikuti irul memasuki tendanya yang bersebelahan dengan
tenda kami, aku dan Beny juga demikian, kami rebah beralas sleepingbag, permukaan susunan batu yang tak beraturan kami anggap refleksi. lampu tidur telah lama menyala, menggantung ditlangit-langit
istana, kami berdiskusi sambil melihat hasil foto selama perjalan, hingga terlelap tanpa tau akhir cerita. Suara binatang malam dan deru air yang jatuh kedanau, berpadu dengan hawa dingin,membuat kami
semakin jauh meninggalkan alam sadar. Malam itu kami tertidur dibuai bebatuan, didalam rimba yang mengagumkan, mencuri tiap-tiap sudut kedamaian didoyam seriam.

minggu, 23 mei 2014 05.50 pagi
Suara merdu nan menggoda, menggelitik telinga memaksaku membuka mata.... kicauan burung murai membangunkanku pagi ini (Suasana seperti ini terakhir kali kurasakan saat berada di Ranukumbolo).
Om L sedang memanaskan air didepan tenda, beratap Flysheet yang sengaja kami pasang menyatu dengan  tenda. Siulan-siulannya rupanya membuat burung murai itu semakin merdu berkicau.
Satu persatu kami terbangun, bukan kopi atau teh... pagi itu kami sengaja menikmati jernih dan segarnya air telaga, minum dan membasuh kusutnya wajah kami. Sebelum akhirnya berenang dan mandi
kami terlebih dulu memotret sekeliling yang tentunya begitu sayang untuk dilewatkan.
(owh iya, kami memang mandi, mencuci muka dan bersikat gigi, namun kami tak melakukannya didanau maupun dialiran sungai melainkan mengambil air dan selanjutnya dibawa kedarat)

---skitar--- jam 10.00 kami berbincang santai ditepi telaga, sinar matahari yang masih ramah membelai dengan mesranya, kopi dan makanan-makanan kecil terletak tak beraturan ditengah lingkaran.
sleepingbag, carrier,beberapa pakaian dan perlengkapan yang sengaja digeletakkan untuk dijemur, menghasilkan pemandangan tersendiri. Beny tengah Asik dengan kameranya, pun demikian dengan om L. Beberapa orang tampak menuruni tangga menuju tempat kami.
"haloo...,,? sapaku. jawaban serupa yang kudengar.

kami ajak mereka bergabung, sekedar berkenalan, berbincang dan menikmati kopi.
Adalah mas erawan, Pria pribumi (suku Paser) tengah mengantar 3 orang asal jakarta yang bekerja dikota kabupaten(jika tak keliru, salah satunya bernama mas Arwan), mereka datang kemari
meggunakan hardtop. Dari situ kami ketahui mas erawan adalah orang yang ditunjuk pemerintah setempat untuk mengawasi sekaligus menjaga ditempat ini, pantas jika beliau tau hampir seluruh seluk beluk  tempat ini, beliau mengatakan jika tempat ini terdapat berbagai macam satwa, selain jenis burung, beruang, rusa, juga terdapat banyak primata termasuk orangutan(tapi beliau sendiri belum pernah melihat secara langsung, hanya sebatas cerita dari penduduk setempat yang pernah menemukan jejak orangutan), bahkan ditempat ini terdapat anggrek hitam (dia memperlihatkan dari handphonenya), mendengarkan ceritanya, kami semakin berdecak kagum dan bangga telah berada disini. Dari sini pula kami ketahui jika air terjun yang berada didepan kami bukanlah modam seriam,
melainkan air terjun grigis. "??What . . . . ?!
"iya mas, ini namanya gregis, yang modam seriam itu ada diatas, dan lebih tinggi dari ini, sekitar 20an meter. Jumlahnya ada 8 air terjun. dari bawah gregis ini urutan yang kelima, diatas sana masih ada 3 lagi salah satunya modam seriam"
(Kurang lebih seperti itu mas erawan menjelaskan dengan dialeg paser. Disitu kami juga sempat bertanya tentang luas dan bagaimana nasip kedepan tempat ini sedangkan pembukaan lahan semakin tak terkontrol. Dan mas erawan sendiri tidak memungkiri susahnya menjaga hutan dari vandalisme, beliau mengatakan lebih mudah melarang perusahaan dari pada melarang pribumi sendiri, selain masih eratnya hubungan kekeluargaan juga kurangnya kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Kami sendiri menyimpulkan peran serta pemerintah dalam hal ini sangat minim, selain mempertahankan kelestarian hutan seharunya ada peran aktif atau sosialaisai kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan dan efek buruk dari kerusakan hutan. dalam kesempatan ini pula kami sempat mengatakan bahwa tempat ini harus dijadikan hutan lindung dan tak sebatas wacana. Beberapa tahun lalu pernah ada isu akan ada perusahaan tambang nikel yang akan melakukn eksplorasi dihutan ini namun masyarakat menolak karena telah melihat kerusakan alam akibat aktivitas)

Karena mas erawan mengatakan bahwa modam seriam tak jauh dari camp kami,  aku dan Febri untuk treking bersama mereka kearah hulu menyusuri sungai, sedang yang lain menunggu ditenda sambil memasak.
Setelah melewati trek yang cukup sulit, sungai, bebatuan dan tebing yang berlumut (ada beberapa trek yang harus dilewati dengan cara berpegangan pada akar ataupun tali tambang yang telah disediakan, sangat cocok bagi penyuka treking karena lumayan memacu andrenalin) akhirnya kami sampai, Terlihat dari balik daun & celah bebatuan yang menyerupai huruf V Doyam Seriam begitu anggun.

Doyam Seriam
Semakin kami mendekat ia semakin menampakkan kecantikannya, air yang jatuh dari ketinggian skitar 20 meter laksana sekelompok bidadari yang tengah terjun bebas sambil menari. Mas arwan dan  teman-temannya menyempatkan mandi dan berfoto, sedang aku dan febri sibuk mengabadikan keindahan itu. Ketika mereka melanjutkan trekking ke air terjun selanjutnya kami memutuskan untuk kembali ke camp. (saat mendekati air terjun Doyam Seriam entah kenapa flash kameraku bermasalah, selain hasil tidak maksimal gambar yang kudapat juga tak banyak, Wallahualam)

13j.15
Hujan mereda, makanan dipiringpun telah habis, kami berkemas. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal kami mulai menanjaki terjalnya ratusan anak tangga, meninggalkan damainya gregis. Memunguti sampah disepanjang trek dan tempat-tempat peristirahatan membuat kantong sampah kami semakin sesak saja, hal ini yang membuat kami tak bisa membawa semua sampah yang kami dapatkan, kami masukkan dikarung yang tergantung yang telah sediakan. 
Gregis Wtr.Full

(dalam peristirahatan menuju pos pertama, satu lagi bonus dari yang Esa, awalnya kami mengira angin yang terkena dedaunan, ternyata suara itu berasala dari kepakan sayap enggang yang melintas tidak
terlalu tinggi diatas kami, kali ini ukurannya benar- benar menakjubkan, kami tak bisa mengabadikan moment itu, karena daya batteray kamera telah kosong)

Terdengar suara teriakan dari arah atas Dan...,,,lagi-lagi, kami bernasib baik. mas Erawan dan 3 orang lain yang baik hati menunggu kami. Perjalanan pulang menjadi lebih cepat dan tak melelahkan.  Setibanyadidesa kami bersantai dan bertukar nomer Handphone dengan mas erawan, mas arwan dan mengatakan ada keinginan untuk kembali mengunjungi modam seriam dengan menggunakan jasa mas erawan beserta hartopnya. Sore itu kami mendapati beberapa orang sedang menggelar dagangannya, ada sayur-mayur, kue kering khas kalimantan, ikan hingga durian. Menyempatkan mencicipi durian hutan, matangnya sempurna dan harganya terbilang murah jika dibanding kota. kami juga memesan kopi hitam.
Pos 1.
dari kiri: Beny, mas dokter, Mas dokter, irul, chandra, mas arwan, mas Erawan (pemilik Hardtop), Om Lexy, Febri, Dwi Vespa (ane gan)

Modang Traditional Market


(...dan ternyata ibu pemilik warung yang sangat ramah itu adalah ibu dari mas erawan)

2 hari, nyaris tak terasa, namun begitu bermakna bagi kami, dimana kami bisa bercengkrama dan sedikit berguna bagi alam. Hingga akhirnya kami berpisah, Beny dan yang lain kembali ke tanah grogot, sedang aku dan om L kembali kebalikpapan.

Semoga sekelumit cerita dari perjalanan kami ini bisa bermanfaat dan menginspirasi semua kalangan baik masyarakat setempat maupun mereka yang berada dilembaga  untuk tetap menjaga kelestarian alam dan sadar akan fungsinya.


>>Hutan bisa menghasilkan uang, Bukan Hutan untuk dijadikan uang.
>>MARI MENJAGA ALAM INI, AGAR TUHAN YANG MAHA ESA MENJAGA KITA DIALAM INI DAN NANTI


Mas Erawan, mas Arwan dkk ud kasih tumpangan
...Salam Lestari

Judul>>>>>>>Mencuri Kedamaian di Doyam Seriam
Lokasi>>>>>>Air Terjun Doyam Seriam (Desa Modang, Kec. Kuaro Kab. Paser KalTim)
Kordinat>>>> S 01'42.212'
                   E 116'03.685'
Narasi>>>>>>Dwi
Foto>>>>>>>Beny, Febri, Om L,Irul, Chandra
(dokumentasi selama perjalanan silahkan diakses didropbox https://www.dropbox.com/sh/deryf2ziklx5kq4/AfLFPLcAX- )
Thanks Rabb...for everything

Senin, 10 Februari 2014

Balikpapan dan Sebuah Teluk Diambang Kehancuran


Semarak hari jadimu terisi suara yang bgitu merdu...
gelak tawa para punggawa, penguasa dan jelata terdengar diseluruh sudut kota
kasat mata...kau nyaris sempurna

Jutaan ucapan mengalir bagai hujan
setumpuk hadiah berserakan laksana sampah...
namun tak jauh ditepimu, pembantaian dengan suburnya
ribuan mata yang melihat hanya membisu, diam tak bergerak seolah batu...

Balikpapan, kotamu tengah bersenang-senang,
sementara telukmu...diambang kehancuran, ekosistemnya menunggu kepunahan

Tergerus Sikap Autis yg tak berfikir masa depan
tercoreng tinta penguasa yang semakin arogan...

Balikpapan, akankah telukmu hanya menjadi sebuah kenangan?

"Balikpapan, 10 Februari 2014

Rabu, 09 Oktober 2013

PNS

...PNS
 ...tok-tok-tok,, "mas indra...,mas indra? suara yagn sudah tak asing lagi ditelingaku..
"busyet... ngapain si ni bocah siang bolong gini manggil2, dengan malas aku beranjak meraih gagang pintu.
"kenapa van?
..ini mas,  disuruh ibu nganter sanggar cempedak....(sanggar cempedak; sejenis pisang goreng tp trbuat dr buah cempedak, orang kalimntan menyebut pisang goreng dgn sebutan sanggar)
owh iya,,,makasih yak... tumben dirumah lu? biasanya siang gini kelayapan dilapangan bola..
...ngga mas, lapangan lg dipake org latihan paskibra..
owh... kasih tau ibu,, mkasih gitu ya...
iy mas,,,jawabnya..dan berlalu pergi
kuletakkan sepiring dengan beberapa potong camilan itu didepan televisi, kulanjutkan tidur siangku yang belum tuntas.
ivan...dia putra bungsu pemilik rumah yang aku tinggali, sudh 2 tahun ini aku dan dua orang temanku menyewa dirumh ini.
owh iya, aku indra... umurku 24 tahun, aku tinggal dikota ini semenjak STM, tamat STM aku melanjutkan kuliah sambil bekerja.  Tak terasa, 8 tahun berlalu, kuliahku pun telah selesai satu tahun yg lalu.
...hari-hari kuisi dengn bekerja, keluar masuk hutan dan sesekali mendaki gunung, dan satu lagu, bervespa. semua aku jalani dengan damai... seolah tanpa beban.

disela makan siang telfon gengamku berdering, "my sister...
"assalamu'alaikum...,, ya mba'?
..lagi kerja to? pertanyaan yang bgitu khas dan nyaris sm stiap dy menelfon...
..lagi makan siang, ada apa,..mamak-bapak gmn kabar'a, sehat?
dan bla-bla-bla...obrolan kami tak bgitu lama, stelah menyampaikn mksdnya dy menutup telfon.
dia kakak perempuanku kami, kami 3 bersaudara, aku anak nomer 2..sedangkan adikku lebih dulu menuju alam kedamaian. kakak ku telah berkeluarga, dia mnjadi guru dikampung halamanku.
dalam pmbicaraan ditelfon dia memberitahukan tentang penerimaan Pegawai Negri Sipil. sesuatu yg telah dicita-citakan org tua kami.
ini kali kedua kakaku menyuruhku ikut serta dalam tes tersebut, aku tau sebenarnya ini adalah permintaan orang tuaku. Hanya saja mereka tak mau menyampaikannya secara langsung kepadaku, karena pada sebelumnya aku tak menuruti maksud mereka.

"wan,,, beny kmn, ngga keliatan dari  tadi?
wawan & beny... kami berteman sejak STM, kami sama-sama tinggal dirumah ini. Diantara kami bertiga hanya beny yang belum menyelesaikn kuliahnya, entah karena sibuk pekerjaan, sibuk bermusik, fotografi atau bervespa...tahun ini dia baru akan sidang.
...meneketehe..(jwban yg bgitu ringan...) dibengkel kali.
...rencana kita jadi ngga? matabak?...
obrolan kami begitu pnjang...hingga senja mnyambut kami dengan dengan bias pada langit dan seolah menulis apa yang sedang kami bicarakan.
begitu hari-hari kami jalani, menghabiskan waktu dengan rasa lelah dan keceriaan. Dunia kerja, alam raya, dan banyak hal yang kami jalani, hingg kami terasa enggan meninggalkan semua ini.

kerumunan orang terlihat didepan papan pengumuman sebuah instansi pemerintahan, berdesakan, berebut tempat dan pandangan. Ratusan wajah yangg lesu terhambur ditepi gedung yang seolah mengerti apa yg mereka rasakan.
"belum rejeki mau diapain bro... seorang pemuda bersuara bak pahlawan dan motivator mencoba menenangkan temannya.
..lihatlah negri ini, hamparan pulau yang membentang, lautan, gunung, & hutan, tak terhitung kekayaan alam dan sumber penghidupan yang terkandung disana. Tapi mengapa pemandangan ini nyaris terjadi setiap tahunnya?
..mana cerita dan kabar yang digembar-gemborkan dimedia tentang pencapaian sumber daya alam kita, tentang Barel perhari, tentang Ton yang diekspor....sementara hutan kian menepi, gunung kian rata dan laut kian mengering.
Tentang negri yg sudah 65 tahun merdeka, sedang generasinya masih tertunduk dengan wajah lesu merona.

Aku masih mematung diatas scooterku, sambil sesekali membaca berita dimedia online untuk mengusir kebosanan.
Setelah kerumunan mulai berkurang, perlahan kutinggalkan scooter mendekat kepapan pengumuman...mataku bergerilya ketiap sudut hurup, kata & angka yg terpampang didepanku.
Tiga menit berlalu, tak kutemukan angka atau namaku... tak ada kekecewaan atau Penyesalan. senyumku bergelayut mengiringi langkahku meninggalkan sekumpulan nama dan angka yang entah siapa tuannya.

Pagi ini mataku dipaksa terbuka oleh dering yang tak asing...telfon gengamku, "my mom,
"Assalamu'alaikum mak,,,?
...wa'alaikumsalam, masih kah tidur nak? wes subuh belum? nada yg begitu lembut seoalh membelaiku pagi ini, seperti saat kecil dulu, dikala ia membangunkanku utk berangkat kesekolah.
"iy mak, tidur lagi abis subuh...
...gimana hasilnya?
Aku tau apa yang dimaksud, aku tak menjawab, seolah tak mendengar apa-apa. Entah mengapa tiba-tiba aku ragu mengatakan ini kepada orang yang telah melahirkanku. Bukan karena malu atau takut, tapi... aku tau, berita darikulah sangat dinanti olehnya. Sedang aku belum memiliki itu.
... nak? suaranya membuyarkan pikiranku.
"eh..iya mak...belum mak,... jawabku ragu.
setelah diam beberapa saat,.. "owh, ya ngga papa, berarti belum rejeki nak... sabar aja.
Aku tau sebenarnya beliau sedang tak dalam keadaan yg sangat tidak ia harapkan.
Bagaimana tidak, PNS adalah salah satu tujuan kedua orang tua kami, mereka berjuang keras agar kami bisa belajar hingga keperguruan tinggi.
Dan itu berbanding terbalik dengan jalan fikiranku, disitulah mamak dan bapak sering tak dapat bicara banyak tentang jalan pemikiranku. "jadilah manusia, lihatlah kami, kami hanya tak ingin dirimu seperti kami" perkataan bapak yang selalu kuingat.
Rasa berdosa jelas menjadi selimutku pagi ini, aku belum bisa mewujudkan keinginan para pengukir jiwa ragaku.
..ya udah ya nak, mamak tak nyiapin sarapan buat bapak dulu, sana bangun...trus mandi. diujung telfon beliau mengucap salam,,,Asslamu'alaikum...
wa'alaikum salam...
Begitu hari-hari kujalani penuh dengan aktivitas yang membuatku merasa menikmati hidup, meski terkadang disisi lain perasaan kian berkecamuk tatkala isi kepalaku dan angan ini membisikan kata-kata ketelinga "kau telah mengecewakan orang tuamu, kau belu bisa membuat mereka bahagia, anak macam apa kau ini?"

Setahun Berlalu...
Ini hari libur, matahari tengah malu-malu dengan senyumnya diufuk timur. Didepan rumah wawan tengah sibuk memanaskan mesin scooter dengan suara yang cukup khas...
"jo...,,,sekalian bawakan oli didekat rak sepatu...teriak wawan dari luar...
aku menyusul keluar dengan membawa keranjang belanjaan, ya.. pagi ini kami akan kepasar untuk membeli daging, sayur mayur dan bahan-bahan lain untuk membuat martabak. 
Sekitar 8 bulan terakhir aku dan wawan membuka kedai martabak, bermodal dari sedikit tabungan yang kami miliki. Rafik (kami biasa memanggil paijo) dan iman , teman lama kami asal tegal yang menjalankannya, kami hanya membantu saat hari libur.
Meski omzet kami tak terlalu besar, tapi kami bersyukur...paling tidak kami memiliki penghasilan tambahan.
Tengah hari kami selesai menyiapkan semua, sayuran, adonan, kare daging, telah tersusun rapi ditempatnya dan ba'da ashar siap diberangkatkan. ini lebih cepat dari biasanya...karena jika hari-hari biasa hanya iman dan rafik yang mengerjakan semua.
Telefon genggamku berdering, tanda pesan masuk..."my sister"
...de',,jam 3 mama sampe diterminal, setelah dari acara nanti tak ajak mampir ketempatmu y...
aku baru ingat, hari ini kedua orang tuaku datang... mereka menghadiri acara pernikahan keluarga dari kakak iparku. Dan ini akan menjadi kejuta untuk mereka, selama ini aku tak pernah menceritakan kegiatanku diluar pekerjaan.
Aku hanya ingin meyakinkan mereka bahwa aku tak pernah mengecewakan mereka, orang tuaku.
setelah mandi dan selesai berkemas, mengantarkan rafik dan adit, menarik gerobak dagangan kepangkalan.
aku tengah sibuk melayani pembeli... membungkus pesanan, hingga aku tak menghiraukan sekitarku... "martabak manisnya masih ada mas? suara yang datang dari arah kananku seperti tak asing ditelinga, meski begitu aku tak lantas tak menghiraukannya....masih bu, silahkan dipilih mau isi apa, daftarnya ada disini...sambil menyodorkan daftar menu aku mengalihkan wajahku kearahnya dengan sedikit senyum sebagai tandai aku menghargai pembeli,...tapi apa yang kulihat...seraut wajah yang mulai mengeriput, menatapku dengan tatapan yang begitu dalam penuh makna...matanya sedikit berkaca dan senyum yang entah apa artinya...
...mamak?,,, kataku... ya..dia adalah ibuku, salah satu pengukir jiwa ragaku.
...kuraih tangannya, kuletakkan keningku, seperti ketika aku hendak berpamitan sekolah saat kecil dulu...aku mengajaknya ketempat duduk yang ternyata ayahku telah terlebih dulu duduk disana bersama kakak ipar dan keponakanku.
Beberapa pasang mata pembeli yang memperhatikn tak kuhiraukan bahkan ingin kutunjukkan kepada mereka bahwa ini lah kedua manusia super yang membuatku hingga seperti sekarang ini.
"sehat le? pertanyaannya dengan suara yang seolah ragu
Alhamdulillah mak,...
aku tak tau harus memulai pembicaraanku dari mana, yang sangat ingin kuucapkan adalah permintaan maafku karena aku tak bisa mewujudkan impian mereka yang menginginkan aku menjadi pegawai berseragam, pelayan masyarakat.
aku tau, mereka masih kecewa dengan jawabanku dulu, saat itu aku mengatakan kepada mereka "bukan hanya pegawai negeri yang bisa makan".
Aku sadar meski hidupku adalah pilihanku dan aku yang menjalani, tapi kepada mereka yang telah melahirkan, merawat dan membesarkan aku tak seharusnya aku berkata demikian, tak ada orang tua yang ingin melihat anaknya sengsara atau sekedar hidup lebih sulit dari dirinya, tak ingin anak mereka diremehkan dan dipandang sebelah mata oleh orang lain.
Disisi lain ibuku seperti masih terpukul ketika tau tentang kisah asmaraku, kala itu orang tua kekasihku menolakku secara halus, kemudian menjodohkan putri mereka dengan seorang pegawai sebuah instansi pemerintahan. 
...mohon maaf, kalau saya tidak bisa mewujudkan impian mamak dan bapak, saya tau semua menginginkan yang terbaik untuk saya, tapi mungkin saya memiliki cara sendiri untuk menjalani hidup ini, dimana saya merasa lebih nyaman, saya hanya meminta semua mendo'akan yang terbaik untuk saya.
...dulu bapak sering bilang agar saya bisa bermanfaat untuk orang lain, dan inilah mungkin jawaban dari nasehat bapak dulu, bapak lihat mereka... aku sambil menunjuk kearah rafik dan iman yang tengah sibuk meladeni pembeli.
..meski hanya mereka, tapi paling tidak saya telah membantu mereka mendapat pekerjaan.
Begitu bahasaku seperti sedang berbicara kepada orang lain yang tak kukenal... ayahku hanya terdiam, sedang ibuku tampak menganngguk sambil tersenyum, air matanya tak bisa disembunyikan.
Begitu banyak kata dan maksud saat itu, yang selama ini belum sempat kuutarakan, untuk meyakinkan mereka bahwa aku tak pernah berniat mengecewakan mereka. Aku tak pernah memaksa orang lain atau bahkan kedua orang tuaku untuk mengerti dan mengikuti kemauanku, aku hanya ingin mereka tau maksudku.
Dan inilah aku, seorang anak laki-laki yang sedikit keras kepala, terlahir dari keluarga petani biasa, aku yang tak bisa mewujudkan mimpi kedua orang tua karena memiliki pemikiran berbeda.
Aku memang bukan seorang pegawai pelayan masyarakat, yang berseragam rapi dan bersepatu mengkilap, dengan potongan rambut rapi dan tutur kata berwibawa saat berbicara. Tapi mungkin aku juga bisa berguna untuk orang lain, atau paling tidak aku bisa mengurangi angka pengangguran negeri ini, selain aku seorang pekerja kini aku juga menciptkan lapangan pekerjaan.
Dan disini sekarang aku juga menjadi seorang PNS, bukan Pegawai Negri Sipil, tapi.... Pengusaha Naik Scooter.


Senin, 19 Agustus 2013

ORO-ORO OMBO, CEMORO KANDANG

bernaung diteduhmu, menanggalkan beban dipundak... meluruskan kaki-kaki lunglai
ramah sapa angin yang berbaur dengan ranting cemara, menjadi senandung ditelinga para pengembara

mata ini semakin ingin terpejam,..
tatkala semerbak lavender Oro-oro Ombo membelai dengan mesranya
bersandar pada batang yang menjulang, beralas permadani cemoro kandang..

kau tak istimewa, namun wujudmu begitu mempesona...
menjadi persinggahan setiap insan pemburu negeri atas awan
ketika angin mulai bertiup kencang, senandung seoalah badai yang siap menerjang
damaimu adalah angin dan hadirmu adalah pertanyaan...
Cemoro kandang, kau adalah persinggahan yang tak pernah kami lupakan

RANUKUMBOLO
kabut menggelapkan alam ini sebelum gelap itu datang
kaki-kaki yang telah letih bersembunyi dibalik permadani usang
dingin kian tak terbendung, mata semakin jauh terpejam...terbaring lelap dalam buaian

dingin membangunknku lagi...
embun belum beranjak dari daun yang tak pernah layu
"jam berapa ini?...
semesta bersenandung...burung,ranting, bahkan rumput yg kupijak...
kabut menari diatasmu yg masih terlelap
sedangkan mata-mata sayu menatap keindahanmu dari balik tenda

biasmu berkilau layaknya permata...
aroma dan warnamu tak bisa kumengerti
aku tidak sedang jatuh cinta, bahkan bidadari rasanya tak dapat memalingkan wajah ini darimu..

aku tak tau bagaimana aku bercerita kepada mereka sedang aku tak mampu berucap satupun tentangmu
bahkan hiperbolaku belum bisa menceritakanmu

Ranukumbolo,..apa yang bisa kukatakan tentangmu?

dan entah apa tujuan kau tercipta, tapi kau tak ada duanya...